Mengintip Tradisi Kembul Bujana, Wujud Syukur dan Kebersamaan

Mengintip Tradisi Kembul Bujana, Wujud Syukur dan Kebersamaan

Ribuan orang menyebar dalam banyak kelompok-kelompok kecil dan memadati Lapangan Deksa yang berada di Desa Banjar Arum, Kalibawang, Kulon Progo. Ribuan orang yang menyebar tersebut, masing-masing berkerumun dan menyantap hidangan nasi tumpeng (nasi kuning maupun nasi putih yang dicetak bentuk kerucut) dan dilengkapi dengan sayur mayor serta ingkung ayam. Banyak pula diantara orang-orang tersebut juga membawa nasi, sayuran, dan lauk pauk sendiri, lalu kemudian disantap bersama-sama.

 

Ribuan orang yang memadati Lapangan Deksa menikmati makanan menggunakan alas seadanya, yakni daun pisang maupun kertas coklat yang biasa digunakan untuk membungkus nasi. Ketika bergabung dengan santap bersama tersebut, terdapat pula beberapa warga Desa Banjar Arum yang juga membawa sendiri piring maupun sendok plastik. Masyarakat Desa Banjar Arum, Kulon Progo menamai acara makan bersama tersebut sebagai acara “Kembul Bujana”.

 

Acara Kembul Bujana merupakan bagian tradisi setempat, dalam rangka memperingati HUT desa mereka atau yang biasa disebut peringatan hadeging. Setelah Rois Desa mendoakan atau dalam bahasa jawa didongani, maka acara makan bersama dapat dimulai warga. Dalam acara tersebut tersedia banyak nasi tumpeng. Semua orang diperbolehkan ikut serta menikmati makanan, tak hanya yang ikut serta dalam upacara, tapi semua masyarakat yang menghadiri dipersilahkan menikmati hidangan kebersamaan dalam Kembul Bujana.

 

Masyarakat yang berpartisipasi dalam acara Kembul Bujana datang dari 26 pedukuhan. Antusiasme mereka diperlihatkan melalui persembahan berupa nasi tumpeng dan dimakan secara bersama-sama. Sebelum tradisi menikmati makan bersama digelar, masyarakat akan mengarak semua nasi tumpeng yang telah tersedia. Diarak dalam barisan bregada atau kirab.

 

Seluruh orang yang ikut serta dalam upacara Kembul Bujana diharuskan mengenakan busana tradisional Jawa. Para peserta upacara Kembul Bujana yang pria berbusan surjan (atasan), jarik (bawahan), dan alas kaki berupa sandal slop. Di pinggang pria juga diselibkan keris. Sedangkan peserta upacara Kembul Bujana yang wanita mengenakan kebaya.

 

Banyak nasi tumpeng berukuran kecil merupakan simbol dusun. Sedangkan nasi tumpeng berukuran besar ikut diarak dan menjadi simbol persatuan warga desa. Desa Banjararum Kulon Progo terbentuk pada tanggal 17 April tahun 1947. Oleh karena itu, Kembul Bujana diselenggarakan setiap 17 April. Rangkaian acara diawali kirab bregada, diikuti oleh warga membawa banyak nasi tumpeng serta hasil bumi. Selanjutnya warga berkumpul di lapangan. Rangkaian acara menggunakan pengantar berbahasa jawa.

 

Dalam upacara Kembul Bujana, diadakan pembacaan maklumat tentang bersatunya warga dilanjutkan ikrar bersama agar bersatunya desa. Desa Banjar Arum memiliki pertumbuhan penduduk yang cukup cepat. Penduduk Desa Banjar Arum, Kulon Progo telah melebihi tiga ribu kepala keluarga yakni sekitar 10.700 jiwa lebih, dan tersebar di 26 dusun. Kembul Bujana juga merupakan wujud ungkapan rasa syukur warga

 

Kebanyakan penduduk Desa Banjar Arum, Kulon Progo bermata pencaharian sebagai petani palawija dan padi. Sedangkan sebagian warga bekerja dalam sektor jasa. Dan sebagian kecilnya adalah PNS. Warga Desa Banjar Arum hidup dengan rukun. Acara lain yang juga biasa diadakan adalah festival penjor. Ini merupakan festival kesenian janur layaknya umbul-umbul. Perajin penjor dari berbagai dusun hadir di festival janur. Banyak para perajin penjor yang memperoleh bahan bakunya dari Desa Banjar Arum.

 

Warga desa mengakui sebenarnya masih ada lagi potensi yang bisa dikembangkan dari Desa Banjar Arum, Kulon Progo. Salah satunya ialah potensi wisata tetapi belum dikembangkan. Desa Banjar Arum berada kurang lebih 20 km dari Ring Road bagian Barat di Sleman, Yogyakarta.